National

Ads

Economy

Technology

Politics

Video

Senin, 29 Juni 2026

Buntut Lima Peserta Wafat, Menhan Sjafrie Setop Pelatihan Militer SPPI


sejumlah-peserta-program-sarjana-pengger

Senin, 29 Juni 2026 – 19:50 WIB

Sejumlah peserta program Sarjana Penggerak Pembangunan Indonesia (SPPI) meneriakkan yel-yel saat mengikuti Pelatihan Dasar Kemiliteran (Latsarmil) calon manajer Koperasi Desa Merah Putih (KDMP) di Brigif 1 Marinir Cilandak, Jakarta, Kamis (25/6/2026). Sebanyak 674 peserta mengikuti latsarmil untuk membangun karakter integritas, loyalitas, kedisiplinan, kekompakan, dan empati yang dibutuhkan dalam menjalankan tugas sebagai manajer KDMP. ANTARA FOTO/Indrianto Eko Suwarso/nym.

jpnn.com, JAKARTA - Kementerian Pertahanan resmi menghentikan total aktivitas kemiliteran fisik dalam program Sarjana Penggerak Pembangunan Indonesia (SPPI).

Kebijakan drastis ini diambil sebagai bentuk evaluasi mendalam demi menjamin keselamatan para calon pengelola atau manajer Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (KDKMP) dan Koperasi Nelayan Merah Putih (KNMP).

"Kemhan melakukan penyesuaian pendekatan kegiatan. Terminologi dan pelaksanaan kegiatan saat ini diarahkan menjadi Latihan Pembekalan Bela Negara dan Manajerial, bukan Latsarmil lagi," kata Kepala Biro Informasi Pertahanan Sekretariat Jenderal Kemhan Brigjen TNI Rico Ricardo Sirait saat dikonfirmasi di Jakarta, Senin.

Perubahan itu dilakukan setelah Menhan Sjafrie Sjamsoeddin mengevaluasi sistem pembelajaran, setelah kejadian lima peserta latsarmil meninggal dunia.

Dengan adanya evaluasi ini, Rico memastikan kegiatan fisik dan pelatihan yang berkaitan dengan latihan kemiliteran akan dikurangi.

"Dengan penyesuaian tersebut, kegiatan yang bersifat taktis dan teknis militer dikurangi, termasuk kegiatan menembak tidak lagi menjadi bagian dari pelaksanaan latihan saat ini," kata Rico.

"Fokus kegiatan diarahkan pada pembentukan disiplin, karakter, kepemimpinan, kerja sama, tanggung jawab, wawasan kebangsaan, serta kesiapan manajerial peserta sebagai calon pengelola koperasi," ujar dia.

Menurut Rico, Kemhan juga akan memperhatikan kondisi kesehatan peserta demi memastikan proses pendidikan para calon pengelola koperasi bisa berjalan aman dan tertib.


Page 2

Senin, 29 Juni 2026 – 19:50 WIB

Sejumlah peserta program Sarjana Penggerak Pembangunan Indonesia (SPPI) meneriakkan yel-yel saat mengikuti Pelatihan Dasar Kemiliteran (Latsarmil) calon manajer Koperasi Desa Merah Putih (KDMP) di Brigif 1 Marinir Cilandak, Jakarta, Kamis (25/6/2026). Sebanyak 674 peserta mengikuti latsarmil untuk membangun karakter integritas, loyalitas, kedisiplinan, kekompakan, dan empati yang dibutuhkan dalam menjalankan tugas sebagai manajer KDMP. ANTARA FOTO/Indrianto Eko Suwarso/nym.

Diketahui, Sjafrie Sjamsoeddin mengevaluasi secara menyeluruh program latihan dasar kemiliteran (latsarmil) untuk calon manajer Koperasi Merah Putih.

"Atas arahan Menteri Pertahanan, penyelenggara telah melakukan evaluasi menyeluruh terhadap aspek kesehatan," kata Kepala Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia (BPSDM) Kemhan, Mayjen TNI Ketut Gede Wetan Pastia saat jumpa pers di kantor Kementerian Pertahanan, Jakarta Pusat, Sabtu (27/6).

Menurut Ketut, pemeriksaan kesehatan secara menyeluruh perlu dilakukan untuk mengetahui kondisi fisik para peserta.

Setelah kondisi kesehatan para peserta diketahui, setiap satuan TNI yang jadi pihak pelatih latsarmil harus menyesuaikan porsi latihan fisik sesuai dengan kondisi para peserta.

Dari sisi penanganan, Kemhan juga meminta agar penanganan medis terhadap peserta yang sakit bisa dilakukan secara cepat dan maksimal

Tidak hanya evaluasi soal kesehatan saja, Ketut mengatakan Sjafrie meminta evaluasi juga harus dilakukan dari segi pemberian materi selama pendidikan.

"Kegiatan juga diarahkan agar lebih adaptif, edukatif, dan memperhatikan kondisi psikologis peserta melalui metode pembelajaran yang membangun semangat kerja sama, problem solving, dan suasana yang lebih menggembirakan," kata dia.

Dengan demikian, para peserta tidak akan kehilangan esensi dari pendidikan latsarmil yang lebih menekankan pada nilai kedisiplinan dan membangun jiwa kepemimpinan.(antara/jpnn)

Redaktur & Reporter : Budianto Hutahaean

Modus Penipuan Kripto Makin Canggih, Kesadaran Pengguna Jadi Kunci

Modus Penipuan Kripto Makin Canggih, Kesadaran Pengguna Jadi Kunci

Senin, 29 Juni 2026 – 20:00 WIB

Penipuan siber. Ilustrasi Foto: Antara

jpnn.com, JAKARTA - INDODAX bersama blockchain developer, komunitas kripto, dan pelaku industri menggelar diskusi Beyond Code: The Human Side of Crypto Security.

Mengusung tema Security Starts With You, forum ini membahas bagaimana faktor manusia menjadi salah satu titik paling krusial dalam menjaga keamanan aset digital dan kripto.

Chief Information Security Officer (CISO) INDODAX, Ledy menjelaskan perkembangan teknologi keamanan telah mengubah pola ancaman di ekosistem aset kripto.

Jika sebelumnya pelaku lebih banyak berupaya mengeksploitasi kelemahan sistem, kini berbagai insiden terjadi justru karena pelaku menyasar aspek psikologis pengguna yang dirancang untuk memengaruhi cara seseorang mengambil keputusan.

“Banyak orang masih menganggap ancaman terbesar berasal dari peretasan sistem pada exchange. Padahal, dalam beberapa kasus yang terjadi belakangan, pelaku justru memperoleh akses karena korban secara tidak sadar memberikan informasi penting atau mengklik tautan berbahaya yang menyerupai layanan resmi,” ujarnya.

Dia menjelaskan perkembangan AI membuat berbagai modus penipuan tampil semakin meyakinkan.

Selain deepfake dan voice cloning, pelaku kini juga memanfaatkan iklan palsu di media sosial seperti Facebook, manipulasi hasil pencarian (AI search engine repositioning), hingga penyamaran sebagai Customer Support (CS) resmi melalui aplikasi pesan instan seperti WhatsApp.

“Di INDODAX kami tidak memiliki nomor WhatsApp Customer Support resmi. Seluruh layanan hanya bisa diakses melalui nomor telepon, email, maupun kanal resmi perusahaan. Karena itu, masyarakat perlu membiasakan diri melakukan verifikasi bahkan riset mandiri (DYOR) dalam mencerna informasi sebelum mengambil keputusan,” jelasnya.

Penipuan siber. Ilustrasi Foto: Antara

Menurut Ledy, perubahan pola ancaman tersebut menunjukkan bahwa keamanan digital tak lagi cukup mengandalkan kecanggihan teknologi semata.


Membangun security atau cyber hygiene melalui kebiasaan memverifikasi informasi, menjaga kerahasiaan data pribadi, serta mengenali berbagai format manipulasi menjadi esensial dalam memperkuat perlindungan pengguna.

INDODAX menilai peningkatan literasi keamanan digital perlu berjalan seiring dengan penguatan teknologi.

Seiring berkembangnya berbagai modus penipuan berbasis AI, edukasi mengenai cara mengenali social engineering, phishing, deepfake, hingga penyalahgunaan identitas digital menjadi semakin penting untuk memperkuat perlindungan pengguna.

Sebagai regulated crypto exchange Indonesia, INDODAX terus memperkuat standar keamanan platform sekaligus menghadirkan edukasi yang relevan agar masyarakat dapat beraktivitas di ekosistem aset kripto secara lebih aman, bijak, dan bertanggung jawab.

"Platform dapat menyediakan berbagai sistem lapisan keamanan. Namun pada akhirnya, setiap keputusan tetap berada di tangan pengguna. Karena itu, kami selalu mengingatkan masyarakat untuk tidak mudah percaya dan selalu melakukan verifikasi sebelum memberikan informasi ataupun mengambil keputusan terkait aset digital," tutupnya.(chi/jpnn)

Di tengah semakin kuatnya sistem keamanan digital, pelaku kejahatan siber justru semakin banyak menyasar manusia dibandingkan mencoba menembus sistem teknologi.



Tabung Merah Putih Akan Gantikan LPG Gas Melon




Jakarta, CNN Indonesia --Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi (Migas) Kementerian ESDM Laode Sulaiman mengungkapkan  tabung compressed natural gas (CNG) dengan nama Tabung Merah Putih tengah disiapkan sebagai pengganti LPG 3 kilogram (kg) atau Gas Melon.

Laode mengatakan penamaan tersebut sebelumnya telah disampaikan oleh Menteri ESDM Bahlil Lahadalia sebagai identitas tabung CNG untuk rumah tangga.

"Pak Menteri kan kemarin ngomong namanya Tabung Merah Putih," ujar Laode ditemui di Gedung DPR RI, Senin (29/6).

Ia menjelaskan prototipe tabung CNG akan mulai dibuat pada Juli 2026. Sebanyak belasan unit disiapkan untuk menjalani serangkaian pengujian di Lemigas.

"Jadi Juli ini sedang dibuat prototype untuk diuji. Jadi diuji tuh belasan lah, mungkin sekitar 15," katanya.

Laode mengatakan kapasitas tabung tersebut setara dengan LPG 3 kilogram. Seluruh prototipe saat ini masih didatangkan dari China.

[Gambas:Youtube]

Menurutnya, tabung CNG menggunakan material komposit dengan teknologi tipe empat sehingga bobotnya jauh lebih ringan dibanding tabung logam konvensional. Ia menjelaskan pengujian akan difokuskan pada aspek keselamatan, mulai dari ketahanan tekanan hingga sistem valve yang menyatu dengan tabung.

"Oleh karena itu kita harus membuat yang lebih ringan agar emak-emak nanti enggak merasa, oh ini kok penggantinya berat. Kita uji di Lemigas. Yang paling penting safety dari valve dan tabungnya seperti apa," jelas Laode.

Meski menggunakan teknologi baru, pemerintah memastikan harga jual tabung CNG nantinya disamakan dengan LPG 3 kilogram. Dengan skema tersebut, subsidi energi diperkirakan tetap dapat ditekan hingga sekitar 30 persen.

"Sama, sama harganya (LPG 3Kg). Sekarang simulasinya masih disamakan. Dengan disamakan pun subsidi bisa turun sampai dengan 30 persen," imbuhnya.

Ke depan, pemerintah juga membuka peluang pembangunan pabrik tabung CNG di Indonesia apabila kebutuhan sudah meningkat. Sementara implementasi program akan dilakukan secara bertahap di berbagai daerah dengan pasokan gas yang telah disiapkan bersama SKK Migas.

"Ada peluang untuk itu (pembangunan pabrik di RI). Kalau jumlahnya masif kan kita punya bargaining untuk minta mereka bangun di sini," pungkasnya.

(ldy/ins) Ad

Dua Buruh Proyek Asal Jember Hilang Digulung Ombak Pantai Greenbowl Bali, OMG!


Senin, 29 Juni 2026 – 19:07 WIB

Dua Buruh Proyek Asal Jember Hilang Digulung Ombak Pantai Greenbowl Bali, OMG! - JPNN.com Bali

Tim SAR dari Basarnas Bali mengerahkan personel dan rubber boat untuk mencari dua orang buruh proyek asal Jember, Jawa Timur, yang hilang digulung ombak Pantai Greenbowl, Ungasan, Kuta Selatan, Badung, Senin (29/6). Foto: Humas Basarnas Bali

bali.jpnn.com, DENPASAR - Perairan Bali kembali memakan korban.

Dua orang buruh asal Jember, Jawa Timur, Roni Firmansyah, 24, dan Dimas Hilman Hafizudin, 21, dilaporkan hilang misterius setelah tergulung ombak besar Pantai Greenbowl, Ungasan, Kuta Selatan, Minggu (28/6) siang.

Tim SAR gabungan yang dikerahkan ke lokasi kejadian sejak Senin (29/6) pagi hingga sore tadi belum menemukan tanda-tanda keberadaan kedua korban.

Baca Juga:

Peristiwa nahas ini bermula pada Minggu (28/6) kemarin sekitar pukul 12.00 WITA.

Saat itu, lima orang buruh proyek dilaporkan sedang mandi di Pantai Greenbowl, Ungasan, Kuta Selatan.

Tiga di antaranya kemudian memutuskan menyusuri pantai untuk mencari kepiting, sementara dua korban, Roni Firmansyah dan Dimas Hilman Hafizudin tetap berenang di pantai.

Baca Juga:

Nahas, beberapa saat kemudian kedua korban terlihat mulai terseret arus ke tengah.

Rekan-rekan korban sempat berusaha mencari bantuan dan melakukan penyisiran mandiri.

Dua orang buruh asal Jember, Jawa Timur, Roni Firmansyah, 24, dan Dimas Hilman Hafizudin, 21, hilang misterius setelah tergulung ombak besar Pantai Greenbowl
JPNN.com WhatsApp

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com Bali di Google News


Page 2

Senin, 29 Juni 2026 – 19:07 WIB

Dua Buruh Proyek Asal Jember Hilang Digulung Ombak Pantai Greenbowl Bali, OMG! - JPNN.com Bali

Tim SAR dari Basarnas Bali mengerahkan personel dan rubber boat untuk mencari dua orang buruh proyek asal Jember, Jawa Timur, yang hilang digulung ombak Pantai Greenbowl, Ungasan, Kuta Selatan, Badung, Senin (29/6). Foto: Humas Basarnas Bali

Namun, besarnya ombak membuat kedua korban dengan cepat hilang dari pandangan hingga akhirnya kejadian ini dilaporkan ke aparat setempat.

Baca Juga:

Kepala Kantor Pencarian dan Pertolongan Denpasar (Basarnas Bali) I Nyoman Sidakarya mengatakan pihaknya langsung menerjunkan tujuh personel sejak pukul 06.00 WITA untuk memimpin operasi gabungan.

"Operasi SAR hari ini dibagi menjadi beberapa Search and Rescue Unit (SRU).

SRU laut menyisir perairan menggunakan satu unit rubber boat dari Pantai Pandawa,” ujar I Nyoman Sidakarya, Senin (29/6).

Untuk SRU darat dibagi dua tim untuk menyisir garis pantai dan melakukan pemantauan dari atas tebing Greenbowl sejauh 2 km ke arah barat dan timur.

Untuk memaksimalkan pencarian, tim SAR juga mengerahkan teknologi modern seperti drone thermal untuk pantauan udara yang lebih luas.

Tim SAR juga menerjunkan AquaEye untuk mendeteksi objek di bawah permukaan air.

Namun, hingga operasi hari ini ditutup, hasilnya masih nihil.

Dua orang buruh asal Jember, Jawa Timur, Roni Firmansyah, 24, dan Dimas Hilman Hafizudin, 21, hilang misterius setelah tergulung ombak besar Pantai Greenbowl
Facebook JPNN.com Bali Twitter JPNN.com Bali Pinterest JPNN.com Bali Linkedin JPNN.com Bali Twitter JPNN.com Bali Flipboard JPNN.com Bali Line JPNN.com Bali JPNN.com Bali
JPNN.com WhatsApp

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com Bali di Google News

Seskab Teddy Sebut 30 Persen Peserta Magang Nasional Tahun Lalu Diterima Kerja Jadi Pegawai Tetap

 Sekretaris Kabinet (Seskab) Teddy Indra Wijaya :

Jakarta, VIVA – Program Magang Nasional (PMN) 2026 yang diluncurkan pemerintah menawarkan gaji bagi peserta magang berkisar Rp3,5-6 juta per-bulan, bergantung pada upah minimum kabupaten/kota tempat peserta bekerja.

"Selama mengikuti magang, para peserta mendapatkan gaji sekitar Rp3,5 sampai Rp6 juta per-bulan tergantung upah minimum Kabupaten/Kota tempat ia bekerja," kata Sekretaris Kabinet Teddy Indra Wijaya saat pembukaan Program Magang Nasional 2026 yang dikutip dalam keterangannya di Jakarta, Senin.

Teddy mengatakan Program Magang Nasional merupakan inisiatif Presiden Prabowo yang mulai dijalankan sejak 2025 melalui Kementerian Ketenagakerjaan. Program itu bertujuan menjembatani lulusan perguruan tinggi agar lebih mudah memasuki dunia kerja dan menyasar lulusan sarjana, penyandang disabilitas, serta peserta dari berbagai profesi.

"Salah satu 'PR' pemerintah yang terus ada sejak dulu adalah bagaimana caranya mahasiswa khususnya S1 yang lulus kuliah bisa langsung dapat kerja dan dapat gaji," ujarnya.

Selain memperoleh penghasilan, peserta PMN mengikuti masa magang selama enam bulan di perusahaan mitra serta mendapat pendampingan dari mentor atau pekerja senior untuk meningkatkan keterampilan kerja.

"Peserta PMN dilatih dan didampingi oleh mentor atau pekerja senior perusahaannya agar skill bertambah. Tahun ini juga tidak hanya merekrut lulusan S1, tetapi juga dari profesi dan saudara kita dari difabel," kata Teddy.

Pada 2026, jumlah peserta PMN ditingkatkan menjadi 150 ribu orang dari 100 ribu peserta pada tahun sebelumnya. Mereka akan ditempatkan di sekitar 8.800 perusahaan milik BUMN maupun swasta di berbagai daerah.

Menurut Teddy, pelaksanaan PMN pada tahun pertama menunjukkan hasil positif, yaitu dari 100 ribu peserta yang mengikuti program di 2025, sekitar 30 persen atau sekitar 30 ribu peserta direkrut menjadi pegawai tetap setelah menyelesaikan masa magang. Sementara itu, 30 persen lainnya masih menunggu panggilan kerja dalam kurun dua hingga tiga bulan.

"Artinya program ini juga adalah jembatan nyata bagi mahasiswa yang lulus untuk dapat langsung bekerja dan mendapat penghasilan," kata Teddy. (Ant)

Mengapa Orang Jepang Menunda Punya Anak?


Meski Jepang memiliki kualitas hidup yang tinggi, negara ini justru menghadapi tantangan besar berupa menurunnya angka kelahiran. Berdasarkan data Kementerian Kesehatan, Tenaga Kerja, dan Kesejahteraan Jepang, jumlah bayi yang lahir pada 2025 (termasuk dari warga negara asing) adalah 705.809 bayi. Jumlah ini merupakan angka terendah yang pernah tercatat sejak pencatatan modern (dimulai tahun 1899).

Jepang sedang menghadapi fakta bahwa anak mudanya menunda berkeluarga. Padahal, pemerintah Jepang sudah berupaya mendorong peningkatan angka kelahiran melalui berbagai kebijakan, seperti bantuan finansial bagi keluarga. Namun, hasilnya masih jauh dari harapan. Jadi, mengapa banyak orang Jepang tetap menunda pernikahan dan memiliki anak?

Menikah di Usia Lebih Tua—Atau Tidak Sama Sekali

Di Jepang, memiliki anak masih sangat erat kaitannya dengan institusi pernikahan. Ketika jumlah pernikahan menurun, angka kelahiran pun kena dampaknya. Dalam beberapa dekade terakhir, semakin banyak orang Jepang yang memilih menikah di usia yang lebih tua. Tidak sedikit pula yang memutuskan untuk tidak menikah sama sekali. Alasannya beragam, seperti fokus pada karier, sulitnya menemukan pasangan yang sesuai, ataupun keinginan untuk hidup bebas.

pernikahan Jepang Ilustrasi pernikahan di Jepang (pakutaso.com)

Bagi sebagian generasi muda, pernikahan tidak lagi dianggap sebagai “kewajiban hidup”. Banyak orang merasa bahwa banyak cara untuk menjalani hidup baik dalam karier, pendidikan, maupun self-growth. Generasi muda tumbuh di zaman dengan lebih banyak pilihan hidup. Sehingga, keputusan untuk menikah tidak lagi didasarkan pada tekanan sosial, melainkan pada kesiapan pribadi dan kondisi yang dianggap tepat.

Biaya Hidup yang Tinggi

Di luar persoalan pernikahan, faktor ekonomi juga berperan besar. Jepang merupakan negara dengan biaya hidup yang tinggi, terutama di kota-kota besar seperti Tokyo dan Osaka, tempat sebagian besar anak muda menjajaki karier.

Memiliki rumah, membesarkan anak, dan membiayai pendidikan membutuhkan pengeluaran yang banyak. Pasangan muda pun merasa harus mencapai kondisi finansial yang stabil sebelum memutuskan untuk memiliki anak. Namun, stabilitas tersebut semakin sulit dicapai di tengah meningkatnya biaya hidup dan ketidakpastian ekonomi.

Dunia Kerja yang Penuh Tuntutan dan Tak Pasti

Meski berbagai usaha perubahan telah dilakukan, jam kerja yang panjang masih dihadapi banyak pekerja. Akibatnya, waktu untuk membangun keluarga dan mengasuh anak pun terbatas. Karena itu, menyeimbangkan tuntutan pekerjaan dengan tanggung jawab sebagai orang tua terasa sangat berat bagi mereka.

Bekerja di Perusahaan Jepang Ilustrasi karyawan di Jepang menghadapi jam kerja yang panjang (pakutaso.com)

Banyak pekerja muda juga menghadapi realita pasar kerja yang berbeda dibandingkan dengan generasi orang tua mereka. Pekerjaan tetap dengan jaminan karier jangka panjang semakin berkurang, sementara pekerjaan kontrak atau freelance semakin umum. Kondisi ini membuat sebagian orang memilih menunda keputusan penting seperti menikah atau memiliki anak hingga mereka mencapai kesiapan finansial yang kuat.

Berubahnya Aspirasi dan Arti Kesuksesan

Perubahan sosial yang terjadi dalam masyarakat Jepang juga turut membentuk keputusan generasi muda mengenai keluarga dan anak. Perempuan Jepang kini memiliki akses yang lebih luas terhadap pendidikan dan karier daripada generasi ibu mereka. Peluang untuk mengembangkan diri secara profesional memberikan lebih banyak pilihan yang tidak selalu berpusat pada peran tradisional sebagai istri dan ibu. Sementara itu, laki-laki muda juga mulai mempertanyakan ekspektasi lama yang menuntut mereka menjadi pencari nafkah utama keluarga.

Di saat yang sama, generasi muda semakin menghargai kebebasan individu dan fleksibilitas . Banyak yang memilih mengalokasikan waktu dan sumber daya untuk melakukan hobi, traveling, meniti karier, atau menikmati gaya hidup yang lebih mandiri. Kesuksesan pun tidak lagi diukur dari status pernikahan atau jumlah anggota keluarga, tapi dari kemampuan menjalani hidup yang sesuai dengan nilai dan tujuan pribadi.

jasa sewa keluarga Jepang japanesestation.com Ilustrasi keluarga Jepang (hivelife.com)

Menurunnya angka kelahiran di Jepang bukan hanya persoalan demografi. Di balik statistik kelahiran yang terus menurun, terdapat generasi yang sedang mendefinisikan ulang prioritas hidup mereka di tengah berbagai badai tantangan sosial ekonomi. Mungkin, pertanyaan yang besar bukanlah mengapa orang-orang menunda pernikahan, melainkan bagaimana masyarakat beradaptasi dengan generasi muda yang memandang masa depan lewat cara berbeda.

Attachments:

Ahli Toksikologi Ungkap Curhat dr Icha: Saya Panik, Dibentak-bentak





Jakarta -Seorang dokter di Nusa Tenggara Timur (NTT), dr. Eliza Princila Utami Pakaenoni alias dr. Icha (27), ditemukan meninggal dunia gantung diri di kediamannya. Sebelum meninggal, dr Icha sempat mengungkapkan ceritanya kepada Dr dr Trimaharani yang dikenal sebagai ahli toksikologi.

Untuk diketahui, Tri Maharani dikenal sebagai spesialis toksikologi ular berbisa di Indonesia. Dokter Tri Maharani adalah salah satu orang yang berkonsultasi dengan dr Icha terkait kasus pasien digigit ular. Dokter Maharani mengatakan bahwa saat itu dr Icha panik dan ketakutan.

"Saya yang konsultasi dengan dokter Icha saat kejadian 13 Juni. Dokter telepon saya dalam kondisi takut dan kepanikan. Telepon saya 3 dan 4 kali," ujar Maharani saat dihubungi, Senin (29/6/2026).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Dia bercerita bahwa dokter Icha mengaku dimarahi oleh keluarga pasien. Bahkan, menurut penuturannya, dokter Icha juga ditanya nama lengkapnya oleh keluarga pasien.

"Dia cerita 'saya dibentak-bentak, dimarah-marahi dan ditanya nama lengkap saya'," tuturnya menceritakan kondisi dr Icha saat itu.

Maharani juga mendapat cerita terkait kondisi pasien gigitan ular tersebut dari dr Icha. Maharani sempat menyarankan agar dokter Icha menjelaskannya dengan baik.

"Laboratorium pasien normal, fisik normal. Butuh imobilisasi saja. Bukan anti bisa ular. Dokter Icha sudah menjelaskannya, yang keluarga DPRD ini tidak mau menerima," ungkapnya.

Maharani pun mengatakan bahwa justru dokter Icha yang meminta maaf. Sebab, menurut cerita tersebut, keluarga pasien masih marah.

"'Dokter maaf ya dok, saya panik, saya dibentak-bentak dimarahi' gitu cerita ke saya. Anak ini baik. Keluarga tetep ngotot minta antibisa ular itu," katanya.

Maharani mengaku siap jika nantinya diminta menjadi saksi. Dia menyimpan semua WA dari dr Icha sebagai bukti.

"WA-nya kepada saya itu bisa sebagai bukti. Masih ada wa-nya," ujarnya.

Sebagai informasi, insiden tersebut bermula ketika dua anggota DPRD TTU, Norbertus Tubani dari PKB dan Therensius Lazakar dari Partai Golkar, mendatangi IGD RS Leona terkait penanganan seorang pasien anak korban gigitan ular hijau yang merupakan keponakan Therensius. Pasien tersebut diketahui merupakan rujukan dari RSUD Kefamenanu.

Berdasarkan keterangan sejumlah saksi di lokasi, kedua anggota DPRD itu diduga datang dalam kondisi berbau alkohol dan berbicara dengan nada tinggi kepada dr Icha yang saat itu sedang menjalankan tugas medis.

Peristiwa tersebut diduga meninggalkan trauma mendalam bagi dr Icha. Ia kemudian menjalani perawatan intensif sebelum akhirnya dinyatakan meninggal dunia pada Jumat 26 Juni 2026.

dr Icha ditemukan ditemukan meninggal dunia di rumah orang tuanya, Perumahan RSS Baumata, Kabupaten Kupang, NTT, pada Jumat (26/6/2026) sekitar pukul 18.00 WITA setelah sempat menjalani perawatan medis karena tekanan psikologis usai diduga diintimidasi dari anggota DPRD TTU saat menangani pasien anak korban gigitan ular di RS Leona pada Sabtu (13/6).

Loading...

Halaman 2 dari 2

(rdp/imk)

Photos

International

Intertainment

Sport

Election

© Copyright 2019 Top News Jawa Timur | All Right Reserved